Kamis, 18 Mei 2017

Mengenal Rasa Sakit Nyeri ( bagian 2 )



Nyeri atau Rasa sakit ( bagian 2)

Teori Sejarah
Sebelum adanya penemuan apa itu neuron dan peran mereka ( neuron ) dalam memberikan rasa sakit nyeri, berbagai fungsi dan pengkuran pada tubuh yang berbeda diusulkan untuk memperhitungkan rasa sakit nyeri. Ada beberapa teori nyeri pada era awal yang bersaing pengaruh teori di antara orang-orang pada zaman Yunani kuno : Hippocrates percaya bahwa rasa sakit nyeri ini disebabkan oleh ketidakseimbangan cairan vital pada individu. kemudian pada abad ke-11, seorang ilmuwan bernama Avicenna berteori bahwa ada beberapa perasaan yang kemudian mempengaruhi pada indra individu termasuk sentuhan, benturan, nyeri, dan sensasi.
Kemudian pada era abad 17an tepatnya pada tahun 1644, Rene Descrates menyempurnakan teori Avicenna, dia berteori bahwa rasa sakit adalah gangguan yang diturunkan sepanjang serabut saraf sampai gangguan tersebut sampai ke otak, dan pada saat itu sudah berkembang teori neuron atau syaraf, sebuah perkembangan yang mengubah persepsi rasa sakit nyeri dari pengalaman spiritual, magic dan mistik ke sensasi mekanis dan fisik. Karya Descartes, bersama dengan Avicenna's, mendasari dan menandai perkembangan teori spesifisitas abad ke-19. Teori kekhususan melihat rasa sakit nyeri sebagai "sensasi khusus, dengan alat sensoriknya sendiri yang tidak bergantung pada sentuhan dan panca indra lainnya". Teori lain yang menjadi terkenal pada abad ke 18 dan 19 adalah teori intensif, yang mengandung rasa sakit nyeri bukan hanya sebagai hasil dari syaraf sensoris yang unik saja, namun juga keadaan emosional yang dihasilkan oleh rangsangan yang lebih kuat daripada saat normal seperti cahaya, tekanan atau suhu yang kuat.
Pada pertengahan tahun 1890an, teori spesifisitas sebagian besar didukung oleh ahli fisiologi dokter-dokter medis, dokter umum saat itu, dan teori intensif sebagian besar didukung oleh psikolog. Namun, setelah serangkaian pengamatan klinis oleh seorang ilmuwan bernama Henry Head dan eksperimen oleh seorang ilmuwan Max Von Frey, para psikolog bermigrasi dan mendukung ke teori spesifisitas hampir secara massal, dan pada akhir abad ini, sebagian besar buku teks tentang fisiologi dan psikologi menunjukkan spesifisitas nyeri sebagai fakta, dan bukan lagi sekedar perasaan atau hasil dari suatu perasaan.
Pada tahun 1955, DC Sinclair dan G Weddell mengembangkan teori pola perifer ( syaraf ), berdasarkan teori atau saran oleh John Paul Nafe pada tahun 1934. Mereka mengusulkan agar semua ujung serat kulit (kecuali sel-sel rambut sekalipun masuk ke otak) yang identik, maka menimbulkan rasa sakit, nyeri itu dihasilkan oleh stimulasi yang terus menerus oleh serat-serat tersebut. Teori abad ke-20 lainnya adalah teori ‘Door Control”, yang diperkenalkan oleh Ronald Melzack dan Patrick Wall dalam artikel Science tahun 1965 dengan Tajuk "Mekanisme Rasa Sakit atau Nyeri : Sebuah Teori Baru". Penulis mengusulkan agar serabut saraf tipis (nyeri) dan diameter besar (sentuhan, tekanan, getaran) membawa informasi dari lokasi cedera atau luka pada dua tujuan di ujung “dorsal” sumsum tulang belakang, dan bahwa aktivitas serat saraf relatif sangat besar terhadap aktivitas serat tipis pada sel penghambat, sehingga semakin sedikit rasa sakit yang dirasakan.

Tiga Manifestasi Rasa Sakit atau Nyeri
Pada tahun 1968 Ronald Melzack dan Kenneth Casey menggambarkan rasa sakit dalam tiga dimensi gambaran yaitu :
1. "sensorik-diskriminatif" (rasa intensitas, lokasi, kualitas dan durasi rasa sakit),
2. "afektif-motivasi" (tidak menyenangkan dan mendesak untuk melepaskan diri dari ketidaknyamanan ),
3. "kognitif-evaluatif" (kognisi seperti penilaian, nilai budaya, gangguan dan saran hipnosis).
Mereka berteori bahwa intensitas nyeri (dimensi diskriminatif sensorik) dan ketidaknyamanan (dimensi afektif-motivasi) tidak hanya ditentukan oleh besarnya stimulus yang menyakitkan saja, namun aktivitas kognitif yang "lebih tinggi" dapat mempengaruhi intensitas dan ketidaknyamanan yang dirasakan indovidu. “Aktivitas kognitif "dapat mempengaruhi pengalaman sensorik dan afektif atau mereka mungkin memodifikasi dimensi afektif-motivasi. Oleh karena itu, perasaan kegembiraan dalam permainan atau perasaan tekanan pada saat terjadi perang tampaknya menghalangi kedua dimensi rasa sakit ( senang dan perasaan tertekan menghalangi rasa sakit muncul), sementara saran pemberian plasebo dapat memodulasi dimensi motivasi afektif dan meninggalkan dimensi sensorik-diskriminatif relatif tidak terganggu.
"Nyeri dapat diobati tidak hanya dengan mencoba mengurangi masukan pada sensorik dengan cara memblok dengan anestesi, obat-obatan, intervensi bedah dan atau sejenisnya, tetapi juga dengan mempengaruhi faktor-faktor afektif dan kognitif motivasional.

Teori Yang Berkembang Masa Kini
Teori "intensif" oleh Wilhelm Erb (1874), bahwa sinyal rasa sakit dapat dihasilkan dengan stimulasi reseptor sensorik yang cukup kuat, telah dibantah. Beberapa serat sensorik tidak membedakan antara rangsangan berbahaya dan tidak berbahaya, sementara yang lainnya nociceptors, hanya merespons rangsangan intensitas tinggi yang berbahaya. Pada ujung perifer nociceptor rangsangan berbahaya menghasilkan arus yang, di atas ambang batas yang diberikan, mengirim sinyal sepanjang serat saraf ke sumsum tulang belakang. "Spesifisitas" (apakah itu merespons fitur termal, kimia atau mekanis dari lingkungannya) dari nociceptor ditentukan oleh saluran ion, yang mana diekspresikan pada ujung perifernya. Puluhan jenis saluran ion nociceptor yang berbeda sejauh ini telah diidentifikasi dan fungsi pastinya masih terus ditentukan.
Sinyal nyeri bergerak dari pinggiran ke sumsum tulang belakang sepanjang serat yang disebut deret serat A-delta atau C. Karena serat A-delta lebih tebal dari serat C, dan dilapisi tipis dengan bahan isolasi elektrik (Myelin), ia membawa sinyalnya lebih cepat (5-30 meter/detik) daripada serat C yang tidak berisolasi elektrik (0,5-2 meter / detik). Rasa sakit yang ditimbulkan oleh serat A-delta digambarkan sebagai tajam dan dirasakan lebih dulu. Sakit diikuti oleh nyeri yang kuat, sering digambarkan sebagai rasa terbakar, dibawa oleh serat C. Neuron "orde pertama" ini memasuki sumsum tulang belakang melalui saluran lissauer.
Serat A-delta dan C ini terhubung dengan serat saraf yang disebut "urutan kedua" di susunan mirip gelatin dari sumsung tulang belakang (laminae II dan III di ujung dorsal). Serabut orde kedua kemudian melewati tali pusat melalui komisura putih anterior dan naik di spinothalmic canal. Sebelum mencapai otak, saluran spinothalamic terbagi menjadi saluran lateral, neospinothalmic, neospinothalmic medial dan paleospinothalamic tract.
Neuron-neuron saluran neospinothalamic orde kedua membawa informasi dari serat A-delta dan berhenti di inti posterolateral ventral thalamus, di mana mereka terhubung dengan neuron orde ketiga dari korteks somatosensori. Neuron paleospinothalamic membawa informasi dari serat C dan mengakhiri seluruhnya di batang otak, sepersepuluh dari mereka di thalamus dan sisanya di medulla, pons dan dan periaqueductal brown.
Urutan kedua, serat sumsum tulang belakang yang didedikasikan untuk membawa sinyal nyeri serat A-delta, dan yang lainnya membawa kedua sinyal nyeri serat baik serat A-delta maupun serat C ke talamus telah diidentifikasi. Serabut sumsum tulang belakang lainnya, yang dikenal sebagai neuron rentang dinamis yang lebar, merespons serat A-delta dan C, tetapi juga pada serat A-beta besar yang membawa sinyal sentuh, tekanan dan getaran. Aktivitas yang berhubungan dengan rasa sakit di thalamus menyebar ke kortreks insular (diduga mencakup, antara lain, perasaan yang membedakan rasa sakit dari emosi homeostatik lainnya seperti gatal dan mual) dan korteks anterior cingulate (diduga mencakup, antara lain Hal, unsur afektif / motivasional, ketidaknyamanan rasa sakit). Rasa sakit yang terletak jelas juga mengaktifkan korteks somatosensori primer dan sekunder.

Peran Evolusioner dan Perilaku
Rasa sakit atau rasa nyeri “PAIN” adalah bagian dari sistem pertahanan tubuh, menghasilkan daya tolak “retraksi” seketika, refleksif dari stimulus yang menimbulkan rasa sakit atau menyakitkan, dan kecenderungan individu “tubuh” untuk melindungi bagian individu “tubuh” yang terkena dampak saat terjadi proses penyembuhan, serta membuat memory untuk menghindari situasi berbahaya di masa depan. Ini adalah bagian penting dari kehidupan individu manusia termasuk hewan, penting untuk kelangsungan hidup sehat secara mandiri. Seseorang tanpa mempunyai rasa sakit atau nyeri atau mungkin dengan ketidakpekaan bawaan terhadap rasa sakit atau nyeri “PAIN” telah mengurangi harapan hidup dirinya sendiri.
Seorang ilmuwan Richard Dawkins, dalam bukunya The Greats Show on Earth : Sebuah Bukti Evoluasi, bergumam dengan pertanyaan mengapa rasa sakit harus sangat menyakitkan. Dia menggambarkan sakit nyeri sebagai pembangunan mental yang sederhana, disini dia gambarkan dengan "bendera merah", untuk membantah mengapa bendera merah itu tidak mencukupi sebagai gambaran rasa sakit nyeri, Dawkins menjelaskan bahwa dorongan harus bersaing satu sama lain dalam makhluk hidup ( manusia atau hewan ) maka makhluk paling sehat dan bugar akan menjadi orang yang mempunyai kepekaan rasa sakit atau nyeri yang seimbang. Sedangkan rasa sakit atau nyeri yang hebat atau berarti “kematian” akan sangat diabaikan oleh individu yang paling kuat menahan rasa sakit atau nyeri. Intensitas nyeri yang relatif mungkin sama dengan risiko yang terjadi pada jaman dulu atau nenek moyang kita, dimana rasa sakit atau nyeri seperti kekurangan makanan, terlalu banyak demam, atau cedera serius dirasakan sebagai penderitaan, sementara luka ringan goresan ringan yang dirasakan sebagai ketidaknyamanan yang tidak berarti dan diabaikan). Gambaran kemiripan ini mungkin tidak sempurna, bagaimanapun juga ini terjadi karena seleksi alam yang bisa menjadi perancang yang baik ataupun sebaliknya. Hasilnya pada hewan penelitian sering terjadi gangguan pada hewan penelitian tersebut, termasuk rangsangan diluar batas normal. Hal semacam itu membantu menjelaskan rasa sakit yang tidak (setidaknya tidak) lagi langsung adaptif menerpa individu yang langsung berubah tahan terhadap rasa sakit nyeri.
Nyeri idiopatik atau rasa sakit atau rasa nyeri yang menetap setelah trauma atau patologi telah sembuh, atau yang timbul tanpa penyebab yang jelas, mungkin merupakan pengecualian terhadap pendapat yang mengatakan bahwa rasa sakit sangat membantu mahluk hidup untuk bertahan hidup, walaupun beberapa psikolog berpendapat bahwa rasa sakit tersebut bersifat psikogenik.

Nilai Ambang Batas
Dalam ilmu rasa sakit nyeri, ambang batas dinilai atau diukur dengan secara bertahap, dengan semakin meningkatnya intensitas stimulus seperti arus listrik atau panas yang diterapkan ke tubuh. Ambang persepsi rasa nyeri adalah suatu titik di mana rangsangan simulus mulai terasa menyebabkan rasa sakit atau nyeri, dan ambang batas toleransi rasa nyeri tercapai saat subjek atau individu bertindak untuk menghentikan rasa sakit nyeri tersebut.
Perbedaan persepsi rasa nyeri dan ambang toleransi dikaitkan antara lain dengan faktor, etnisitas, genetika, dan jenis kelamin. Orang-orang dari Mediterania melaporkan bahwa rasa nyeri sebagai rasa yang menyakitkan, sedangkan beberapa intensitas panas, sakit atau nyeri untuk orang-orang Eropa utara digambarkan atau menggambarkannya sebagai “tidak peduli”, dan wanita Italia sedikit lebih tahan denan sengatan listrik yang kurang kuat dibandingkan wanita Yahudi atau Amerika.
Beberapa individu di latar belakangi suatu budaya dan dipengaruhi lingkungan, secara signifikan menunjukkan kepekaan lebih tinggi daripada persepsi nyeri normal dan ambang batas toleransi. Misalnya, pasien yang mengalami serangan jantung tanpa rasa sakit nyeri, ternyata memiliki ambang nyeri yang lebih tinggi untuk kejutan listrik, kram otot dan panas.

Penilaian Rasa Sakit atau Nyeri
Penilaian nyeri pada diri seseorang adalah ukuran rasa sakit nyeri yang paling dapat diandalkan. Beberapa profesional perawatan kesehatan dan tenaga medis lain dahulu, mungkin meremehkan tingkat keparahan nyeri, berbeda dengan sekarang yang sangat memperdulikan rasa nyeri yang dialalmi oleh pasien. Definisi rasa sakit yang banyak digunakan dalam dunia kesehatan dan keperawatan, menekankan sifat subjektif dan pentingnya laporan penilaian diri pasien yang saat ini sangat dipercaya, penilaian nyeri ini diperkenalkan oleh Margo McCaffery pada tahun 1968 : "Rasa sakit nyeri adalah apa pun yang dialami dan dirasakan orang tersebut, dan kapan pun dia mengatakannya". untuk menilai intensitas rasa nyeri tersebut, pasien mungkin diminta untuk menemukan dan menilai diri rasa sakit yang mereka alami pada skala 0 sampai 10, dengan 0 sama sekali tidak sakit, dan 10 adalah rasa sakit yang terburuk yang pernah mereka atau pasien rasakan. Kualitas rasa nyeri dapat ditetapkan dengan menyuruh pasien melengkapi kuesioner nyeri McGill yang menunjukkan kata-kata yang paling menggambarkan rasa sakit mereka.

Perasaan Rasa Sakit Multidimensi
Multidimensional Pain Inventory (MPI) adalah kuesioner yang dirancang untuk menilai keadaan psikososial seseorang dengan rasa nyeri kronis. Analisis hasil dari MPI oleh Turk dan Rudy  tahun 1988 merumuskan tiga kelas pasien nyeri kronis yaitu :
(a) disfungsional : orang-orang yang merasakan tingkat keparahan rasa sakit mereka sangat tinggi, dilaporkan bahwa rasa sakit yang dia rasakan sangat mengganggu sebagian besar hidup mereka, dilaporkan juga bahwa, yang lebih tinggi tingkat tekanan psikologis yang disebabkan oleh rasa sakit nyeri tingkat aktivitas rendah;
(b) terganggu secara interpersonal : orang dengan persepsi umum bahwa orang lain yang berada disekitar atau yang mengenalnya tidak begitu mendukung atau peduli dengan masalah rasa sakit nyeri mereka
(c) mesin adaptif : pasien yang melaporkan diri yang tingkat dukungan socialnya tinggi, tingkat rasa sakit nyeri yang dapat ditahan relatif rendah, gangguan yang dirasakan mengganggu tingkat aktivitas yang relatif tinggi.

Orang Dengan Gangguan Verbal
Bila seseorang tidak dapat secara lisan menyampaikan rasa sakit nyerinya dan tidak dapat melaporkan sendiri rasa sakit nyerinya, maka pengamatan untuk pasien atau orang tersebut menjadi sangat kritis, dan hanya perilaku yang spesifik saja yang dapat dipantau sebagai indikator rasa sakit nyeri. Perilaku yang digambarkan seperti meringis, memejamkan mata dan raut wajah menunjukkan rasa sakit, serta adanya peningkatan atau penurunan vokalisasi ( menjerit, menangis, atau berteriak), perubahan pola perilaku rutin dan perubahan status mental.
Pasien yang mengalami rasa nyeri mungkin menunjukkan perilaku social yang diluar kepribadiannya atau diluar kebiasaannya dan mungkin juga ada yang mengalami penurunan nafsu makan dan tidur hingga terjadi penurunan asupan gizi. Perubahan kondisi yang menyimpang dari awal seperti mengerang dengan gerakan atau saat memanipulasi bagian tubuh dengan rentang gerak yang terbatas juga merupakan indikator rasa sakit yang potensial.
Pada pasien yang memiliki bahasa namun tidak dapat mengekspresikan dirinya secara efektif, seperti pada penderita demensia, peningkatan kebingungan pada pasien atau tampilan sifat perilaku agresif atau sebaliknya yaitu agitasi mungkin mengindikasikan adanya ketidaknyamanan yang ada pada penderita, dan penilaian tidak sekedar scoring 0 sampai 10, akan tetapi butuh pemeriksaan lebih lanjut.
Pada bayi atau balita, pada saat mereka merasakan sakit nyeri mereka tidak memiliki bahasa yang dapat disampaikan kepada seseorang, ini diperlukan orang lain untuk melaporkannya (orang tua, baby sister, dsb) jadi orang-orang terdeklatlah yang mengkomunikasikan kesusahan sibayi, atau bila tidak ada maka perlu ketrampilan dengan mendengar dari cara bayi menangis. Penilaian nyeri non-verbal seperti ini harus dilakukan dengan melibatkan orang tua dari si bayi, yang akan memperhatikan perubahan pada bayi setiap saat yang mungkin tidak diketahui oleh penyedia layanan kesehatan ataupun tenaga kesehatan lain. Bayi pasca lahir lebih sensitif terhadap rangsangan yang menyakitkan daripada bayi dengan usia yang lebih dari cukup.

Hambatan Lain Untuk Melaporkan
Pengalaman nyeri memiliki banyak dimensi budaya. Misalnya, cara seseorang mengalami dan merespons rasa sakit terkait dengan karakteristik sosiokultural, seperti gender, etnisitas, dan usia. Orang dewasa yang semakin menua mungkin tidak menanggapi rasa sakit nyeri seperti orang yang lebih muda atau usia kanak-kanak. Kemampuan orang-orang yang sudah dewasa, tua atau lanjut usia untuk mengenali rasa sakit mungkin mengalami ketumpulan atau tidak lagi dihiraukan lagi akibat dari banyaknya penyakit atau justru banyaknya penggunaan beberapa obat atau beberapa resep obat.
Depresi juga bisa membuat orang dewasa atau tua melaporkan diri bahwa mereka kesakitan. Orang tua atau lanjut usia mungkin juga memilih berhenti melakukan aktivitas yang sangat mereka cintai atau sudah menjadi hobby, karena sangat menyakitkan. Penurunan aktivitas maupun perawatan diri yang muali berkurang (dressing, grooming, walking, etc.) juga bisa menjadi indikator bahwa orang yang semakin tua mengalami rasa sakit atau nyeri. Orang dewasa yang semakin tua mungkin lebih menahan diri untuk tidak melaporkan rasa sakit karena mereka takut harus menjalani serangkaian operasi atau pemeriksanaan atau harus memakai obat yang mungkin akan menyebabkan mereka menjadi kecanduan. Mereka mungkin juga tidak ingin orang lain melihat mereka sebagai orang yang lemah, atau mungkin merasa ada sesuatu yang tidak sopan atau justru memalukan andaikata mereka mengeluhkan rasa sakit atau nyeri mereka atau justru ada pikiran bahwa rasa sakit itu pantas diberikan kepada mereka sebagai hukuman karena pelanggaran masa lalu mereka.
Hambatan budaya juga bisa mencegah seseorang yang mengalami rasa sakit nyeri untuk mengatakan kepada orang lainnya bahwa mereka sedang dalam kesakitan. Sebaliknya ada keyakinan suatu agama dapat mencegah individu untuk mencari pertolongan karena mereka mungkin merasa perlakuan sakit tertentu bertentangan dengan agama mereka. Sehingga mereka mungkin tidak melaporkan rasa sakit karena mereka merasa itu adalah tanda bahwa hukuman atau justru “kematian” sudah semakin dekat. Banyak orang takut akan stigma kecanduan obat-obatan dan menghindari perawatan nyeri agar tidak diresepkan obat-obatan yang justru berpotensi semakin menusuk pada saat tidak ada obat-obatan tersebut. Banyak orang Asia tidak ingin kehilangan rasa hormat di masyarakat dengan mengakui bahwa mereka kesakitan dan membutuhkan pertolongan sehingga mereka lebih merasa terhormat dengan memendam rasa sakit itu, mereka percaya bahwa rasa sakit nyeri itu harus ditanggung sendiri dalam diam, sementara budaya dibelahan lain merasa mereka harus segera melaporkan rasa sakit nyeri tersebut sehingga segera merasa lega dan nyaman. Jenis kelamin juga bisa menjadi faktor dalam hal melaporkan rasa sakit nyeri ini. Perbedaan seksual ini bisa jadi akibat dari harapan sosial dan budaya, dengan wanita atau pasangan yang diharapkan emosional dengan menunjukkan rasa sakit nyeri dan pria bertubuh tegap, dan pria itu juga merasa menjaga rasa sakit itu hanya untuk diri mereka sendiri dan bukan untuk dipamerkan kepada wanita.

Bantuan Untuk Diagnosis
Rasa nyeri adalah salah satu gejala yang umum dari banyak kondisi medis yang terjadi pada pasien. Dengan mengetahui waktu mulai atau kapan dirasakan nyeri, lokasi nyeri, intensitas atau kuatnya rasa nyeri, pola kejadian nyeri (berulang yang sering, kadang-kadang, dsb.), ternyata dapat untuk memperkirakan akan semakin memperburuk ataukah tidak suatu penyakit pada pasien. Rasa sakit atau nyeri ini akan banyak membantu dokter atau tenaga kesehatan dalam pemeriksaan, dokter butuh rangsang atau pengakuan rasa sakit untuk mendiagnosis masalah penyakit dengan akurat. Sebagai contoh misalnya nyeri pada dada yang digambarkan sebagai sakit yang sangat hebat, yang sangat ekstrem dirasakan pasien, dari sini dokter dapat mengindikasikan adanya kemungkinan infark miokard, sementara nyeri dada yang digambarkan sebagai sakit seperti tertekan, kemungkinan dapat mengindikasikan adanya penyumbatan atau penyempitan aorta. Pemindaian otak dengan MRI telah digunakan untuk mencari sumber rasa sakit nyeri serta dimungkinkan untuk mengukur rasa sakit nyeri dikepala, dengan hasil gambaran MRI dimungkinkan dapat memberikan korelasi yang baik dengan rasa sakit nyeri yang dilaporkan sendiri oleh pasien.

Adaptasi Hedonic
Adaptasi hedonic adalah keadaan dimana seseorang atau pasien yang sudah mengalami penderitaan rasa sakit nyeri dalam waktu yang sangat panjang, yang sebenarnya karena penyakit fisik seringkali menjadi jauh lebih rendah dari perkiraan yang sebenarnya kemungkinan sangat hebat, contoh misalnya pasien dengan patah tulang yang kadang timbul rasa nyeri, akan tetapi karena sang pasien sering merasa seperti itu maka lama kelamaan dianggap biasa dan tidak dirasa, secara tidak langsung pasien sudah beradaptasi dengan rasa nyerinya.

Senin, 15 Mei 2017

MENGENAL RASA SAKIT NYERI (bagian 1)

MENGENAL RASA NYERI (bagian 1)



Mengenal
Nyeri atau Rasa sakit nyeri ( bagian 1)



Klasifikasi secara medis atau nomenklatur dalam pedoman buku rekam medis
ICD - 10
R52
ICD - 9-CM
338



Nyeri atau rasa sakit : adalah perasaan tertekan yang sering disebabkan oleh rangsangan yang terus menerus, intens atau merusak rasa nyaman, contoh seperti sesuatu yang menghentikan pergerakan jari di kaki, rasa terbakar/membakar di jari, terkena cairan alcohol pada luka terbuka, atau terasa tertekan dan terjepit pada tulang, dan masih banyak lagi,
Karena nyeri adalah fenomena subjektif dan kompleks, yang menentukan rasa sakit adalah si penderita dimana tiap individual merasakan hal yang sama akan tetapi berbeda pada tingkatannya, dan kompleks karena dapat melibatkan berbagai hal, dan rasa nyeri ini telah menjadi tantangan tersendiri oleh The International Association for The Study of Pain’s yang kemudian mendifinisikan rasa nyeri sebagai “pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang terkait dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau dijelaskan dalam hal kerusakan tersebut." Sedangkan dalam diagnosis dunia medis, rasa sakit dianggap sebagai gejala dari suatu kondisi tertentu yang mendasarinya.
Nyeri memotivasi individu untuk menarik diri dari situasi yang nyaman sehingga suasana sekitar terasa rusak atau tak lagi dihiraukan, dan ini suatu manivestasi untuk melindungi bagian tubuh yang sakit pada saat proses menyembuhkan (baik auto recovery maupun bantuan dari luar), dan untuk menghindari pengalaman serupa di masa depan. Kebanyakan nyeri atau rasa sakit sembuh begitu rangsangan berbahaya dikeluarkan dan tubuh telah sembuh (auto recovery oleh individu), namun bisa bertahan meski hanya sebentar menghilangkan rasa nyeri atau rangsangan sakit atau dengan metode penyembuhan dimana tubuh tidak merasa sakit nyeri sementara dengan bantuan medis atau obat-obatan. Terkadang rasa nyeri atau sakit timbul tanpa adanya rangsangan, kerusakan atau penyakit yang terdeteksi sebelumnya.
Nyeri atau rasa sakit adalah alasan paling umum untuk seseorang datang dan konsultasi ke dokter atau tenaga medis di sebagian besar negara maju. Nyeri atau rasa sakit adalah gejala utama dalam banyak kondisi medis, dan nyeri atau rasa sakit dapat mengganggu utamanya kualitas hidup seseorang serta dapat mengganggu fungsi tubuh lainnya yang tidak teras nyeri atau sakit pada seseorang. Obat nyeri yang dikenal oleh masyarakat dan didapat secara umum di apotek atau tempat penjualan obat ternyata dapat berguna mengurangi rasa sakit dan nyeri ini pada kisaran 20% dinegara maju dan sampai 70% dinegara berkembang tiap kasusnya. Faktor lain seperti psikologis (lingkungan dan keluarga), saran hipnotis atau berbicara pada orang lain, suasana kegembiraan, atau menghilangkan gangguan dapat secara signifikan mempengaruhi intensitas atau ketidaknyamanan rasa sakit atau nyeri pada seseorang. Dalam beberapa argumen yang diajukan dalam proses (yang sekarang masih dalam perdebatan) Bunuh diri dengan dibantu oleh tenaga dokter atau perdebatan euthanasia atau digunakan untuk hukuman mati maka rasa sakit atau nyeri telah digunakan sebagai argumen untuk mengizinkan orang-orang yang sakit parah atau tidak tersembuhkan untuk mengakhiri hidup mereka.
Pada era tahun 90-an, menanggapi kebutuhan akan sistem yang lebih bermanfaat untuk menggambarkan rasa sakit yang kronis pada pasien maka International Association for Study of Pain ( IASP ) mengklasifikasikan rasa sakit atau nyeri sesuai dengan karakteristik spesifik sebagai berikut :
-          Daerah tubuh yang terlibat (misalnya perut, tungkai bawah),
-          Sistem tubuh yang disfungsinya dapat menyebabkan rasa sakit (misalnya, gugup, gastrointestinal),
-          Durasi dan pola terjadinya,
-          Intensitas dan waktu sejak onset atau mulai terasa, dan
-          Sesuatu yang menyebabkan
Namun, sistem ini telah dikritik oleh Clifford J Woolf, karena tidak memadai untuk pembimbingan, penelitian maupun pengobatan. Woolf menyarankan tiga kelas rasa sakit atau nyeri ini yaitu :
  1. Sakit nociceptive,
  2. Nyeri inflamasi yang berhubungan dengan kerusakan jaringan dan infiltrasi sel imun, dan
  3. Nyeri patologis yang merupakan keadaan penyakit yang disebabkan oleh kerusakan pada sistem saraf atau fungsi abnormalnya (misalnya fibromyalgia, neuropati, sakit kepala yang amat sangat, dll.)
Durasi
Nyeri biasanya bersifat sementara, hanya bertahan sampai rangsangan berbahaya dikeluarkan atau kerusakan atau patologi yang mendasarinya telah sembuh, namun beberapa kondisi yang menyakitkan berulang, seperti rheumatoid arthritis, neuropati perifer, kanker dan nyeri idiopatik, dapat berlangsung bertahun-tahun bahkan hingga akhir hayat. Rasa sakit nyeri yang berlangsung lama dan atau berulang biasa disebut nyeri kronis atau persisten, dan rasa sakit nyeri yang cepat sembuh disebut akut.
Secara tradisional, perbedaan antara nyeri akut dan nyeri kronis bergantung pada interval waktu yang berlangsung atau bekerja sejak onset dimulai, yang paling umum digunakan adalah 3 bulan dan 6 bulan sejak timbulnya rasa sakit, meskipun beberapa ahli teori dan peneliti telah menempatkan transisi dari nyeri akut ke kronis pada waktu setelah 12 bulan. Adapula yang menggunakan prinsip nyeri akut bila rasa sakit nyeri berlangsung kurang dari 30 hari dan  Nyeri kronis bila dengan durasi lebih dari enam bulan, dan ada kelas nyeri subakut yang berlangsung dari satu sampai enam bulan. Definisi alternatif yang populer dari rasa sakit nyeri kronis, yang tidak melibatkan jangka waktu yang tidak ditentukan, adalah "rasa sakit yang melampaui periode penyembuhan yang diharapkan". Rasa sakit nyeri kronis dapat diklasifikasikan sebagai nyeri kanker atau yang lainnya yang tidak berbahaya.

Nociceptive
Nyeri nociceptive disebabkan oleh stimulasi serabut syaraf sensorik yang merespons rangsangan mendekati atau melebihi intensitas high alert ( nociceptors ), dan dapat diklasifikasikan sesuai dengan mode stimulasi tingkat tinggi. Kategori yang paling umum adalah "termal" (misalnya panas atau dingin), "mekanis" (misalnya menghancurkan, merobek, menggunting, dll.) Dan "bahan kimia" (misalnya yodium dalam potongan atau bahan kimia yang dilepaskan selama peradangan). Beberapa nociceptors merespons lebih dari satu dari modalitas ini dan akibatnya ditunjuk sebagai polymodal.
Nyeri nociceptive juga dapat dibagi menjadi nyeri "viseral", "somatik dalam" dan "dangkal". Struktur visceral sangat peka terhadap peregangan, iskemia, peradangan dan pembengkaan, namun relatif tidak sensitif terhadap rangsangan lain yang biasanya menimbulkan rasa sakit pada struktur lain, seperti pembakaran dan pemotongan. Nyeri viseral berdifusi, sulit ditemukan dan sering dirujuk ke struktur yang jauh, biasanya dangkal, kadang disertai mual dan muntah dan kurang dapat digambarkan. Rasa sakit nyeri somatik diprakarsai oleh stimulasi nociceptors pada ligamen, tendon, tulang, pembuluh darah, dan otot. Contoh diantaranya adalah termasuk keseleo, dan patah tulang.
Nyeri superfisial dimulai dengan aktivasi nociceptors di kulit atau jaringan superfisial lainnya, dan tajam, terdeteksi dengan baik dan jelas letaknya. Contoh luka terbuka yang menghasilkan nyeri somatik superfisial meliputi luka ringan dan luka bakar ringan (derajat pertama), dsb 

Neuropathic
Nyeri neuropatik disebabkan oleh kerusakan atau penyakit yang mempengaruhi bagian system syaraf dimanapun dibagian tubuh, yang terlibat ( system somatosensor). Nyeri neuropatik perifer sering digambarkan sebagai rasa "terbakar", "kesemutan", "kena listrik", "tusukan", atau "duri dan jarum" serta gesekan dari “funny bone” menimbulkan nyeri neuropatik perifer akut. 

PhantomPain
Nyeri phantom adalah rasa sakit yang dirasakan di bagian tubuh yang telah hilang atau nyeri yang seharusnya otak tidak lagi menerima sinyal nyeri tersebut. Ini adalah jenis nyeri neuropatik. Misal nyeri tungkai phantom dimana tungkai telah diamputasi, ini adalah pengalaman atau keadaan umum nyeri phantom
Prevalensi nyeri phantom pada amputasi ekstermitas atas hampir 82% timbul, dan pada amputasi anggota badan bagian bawah adalah 54%. Satu studi menemukan bahwa delapan hari setelah amputasi, 72% pasien mengalami nyeri tungkai phantom, dan pasien yang nyeri phantom berulang pada enam bulan kemudian, 67% melaporkannya. Beberapa pasien diamputasi mengalami rasa sakit terus menerus yang bervariasi dalam intensitas maupun kualitasnya; Ada yang mengalami beberapa serangan per harinya, atau hanya terjadi satu atau dua minggu sekali atau dalam hitungan bulan. Hal ini sering digambarkan sebagai rasa yang nyeri biasa hingga terasa seperti rasa terbakar atau kram. Jika rasa sakit terus berlanjut dalam waktu lama, bagian tubuh yang utuh bisa menjadi peka hingga terganggu, sehingga menyentuh atau bersentuhan dengan mereka dapat menimbulkan rasa sakit pada pasien di anggota badan yang sudah diamputasi, ( nyeri hantu atau nyeri baying-bayang).
Beberapa therapy dilakukan diantaranya adalah dengan :
-       1.   anestesi per-IV secara lokal ke dalam saraf atau daerah sensitif dapat mengurangi rasa sakit selama berapa hari, beberapa rminggu, atau kadang-kadang ada yang dapat menghasilkan secara permanen, meskipun obat-obat tersebut tidak dipakai atau diberikan kepada pasien dalam hitungan jam, Suntikan kecil garam hipertonik ke dalam jaringan lunak di antara vertebra menghasilkan pengurangan rasa sakit lokal yang menyebar ke anggota badan yang telah diamputasi selama sepuluh menit atau lebih dan mungkin diikuti beberapa jam, minggu atau bahkan lebih lama menghilangkan sebagian atau total dari rasa sakit pada bagian yang telah diamputasi. Getaran kuat atau rangsangan listrik, atau arus dari elektroda yang diinjeksikan ke sumsum tulang belakang, dapat menghasilkan kenyamanan pada beberapa pasien tertentu.

-      2.    Cermin kotak terapi, cermin kotak terapi menghasilkan ilusi gerakan dan sentuhan dalam anggota badan yang telah diamputasi yang pada gilirannya dapat menyebabkan penurunan rasa sakit, dengan memberikan perlakuan pada bagian tubuh yang sama yang masih ada.

-       3.   Paraplegia, adalah hilangnya sensasi dan kontrol motorik setelah kerusakan sumsum tulang belakang yang serius, dapat disertai dengan rasa sesak seperti pemakaian korset, pada tingkat kerusakan sumsum tulang belakang, nhyeri visceral yang ditimbulkan oleh kandung kemih atau usus, atau, dalam 5% sampai 10% persen dari Paraplegics, atau pasien dengan bagian tubuh yang telah diamputasi merasakan nyeri di daerah kehilangan anggota badan dengan sensorik total. Nyeri tubuh yang telah di amputasi ini awalnya digambarkan sebagai rasa yang terbakar atau kesemutan namun bisa berkembang menjadi rasa sakit yang amat sangat, atau sensasi api yang membakar kaki atau seperti pisau yang berputar dalam di dalam badan. Onset mungkin segera terjadi dan sembuh atau mungkin tidak terjadi bertahun-tahun setelah terjadi luka. Perawatan bedah jarang memberikan kelegaan atau kenyamanan yang permanen.

Psychogenic
Rasa nyeri psikogenik, juga disebut sakit jiwa atau sakit somatoform, adalah rasa sakit yang disebabkan, meningkat, atau berkepanjangannya rasa nyeri oleh faktor mental, emosional, atau perilaku. Sakit atau nyeri kepala, sakit atau nyeri punggung, dan sakit perut kadang didiagnosis sebagai psikogenik. Penderita sering mengalami stigmatisasi, karena baik profesional medis maupun masyarakat umum cenderung berpikir bahwa rasa sakit yang bersumber dari psikologis selalu dianggap “tidak nyata". Namun, para spesialis menganggap bahwa alasan tersebut tidak jelas dan kurang aktual atau justru lebih menyakitkan daripada rasa sakit dari sumber lain yang sudah jelas.
Orang dengan rasa sakit nyeri dengan jangka waktu yang panjang sering menunjukkan gangguan mental atau psikologis, dengan skor yang semakin pada skala hitungan “Multiply Line Personality Inventory Minnesota” dari hysteria, depresi dan hypocondriasis. Beberapa peneliti berpendapat bahwa inilah neurotisme yang menyebabkan rasa sakit akut berubah menjadi kronis, namun ada yang menemukan bukti klinis yang menunjukkan sebaliknya, yaitu pada rasa sakit kronis yang menyebabkan neurotisme. Bila rasa sakit jangka panjang berkurang dengan intervensi terapeutik, skor pada triad neurotik dan kegelisahan turun, seringkali sampai tingkat normal. Percaya diri dan harga diri yang seringkali rendah pada pasien nyeri kronis dapat menunjukkan perbaikan setelah rasa sakit teratasi.
Istilah 'psikogenik' mengasumsikan bahwa diagnosis medis begitu sempurna sehingga semua penyebab nyeri organik dapat dideteksi; Sayangnya, kita jauh dari infalibilitas seperti itu 

... Terlalu sering, diagnosis neurosis sebagai penyebab rasa sakit nyeri menyembunyikan ketidaktahuan kita akan banyak hal yang masih tersembunyi dari obat nyeri dan  rasa sakit nyeri itu sendiri.
  -Ronald Melzack, 1996

selayang pandang alat - alat di kamar bedah

Selayang pandang tentang alat-alat dasar kamar operasi yang sering digunakan oleh teman-teman sejawat apoteker pada saat melakukan operasi ....