Selasa, 31 Mei 2016

Mencegah Terjadinya Batu Empedu

     Gejala sakit dikarenakan batu empedu adalah mula – mula adanya rasa ‘mual’ – eneg pada perut, dibarengi rasa kembung ketika sesudah makan, dan kadang – kadang sakit pinggang ketika bangun tidur, bahkan bisa terjadi muntah – muntah saking terasa mualnya. Gejalanya memang hampir sama seperti penyakit mag. Dokterpun awalnya memprediksi bahwa ‘sakit dilambung’ tersebut sepertinya gejala penyakit mag. Namun apa yang dirasakan adalah bukan hanya lambung saja yang sangat terasa sakit, mual, kembung/perasaan selalu kenyang tersebut, akan tetapi kalau sudah parah, dibarengi adanya sakit – nyelekit rasa menusuk-nusuk hingga ke ulu hati bahkan linu sampai ke bagian belakang/punggung kanan. Karena sakitnya ulu hati tersebut, bisa saja seseorang pingsan dikarenakan rasa sakitnya tak tertahankan (aku ngga sampe pingsan sih,..Cuma sakitnya ngga ketulungan..).
     Dokter menduga juga seperti ini adalah gejala Hepatitis, namun belum diketahui jenis Hepatitis A, B atau C. beberapa cirinya adalah badan lemah, sakit di uluhati, kembung mual dan warna air seni berubah pekat – seperti teh botol. Setelah menjalani tes darah ternyata hepatitisnya negative. Lagi, Dokter mendiagnosa bahwa sepertinya ‘Hati’ ini keracunan obat atau keracunan makanan sehingga mengakibatkan ulu ‘hati’ sakit dan berefek ke lambung menjadi kembung dll. Akhirnya karena masih penasaran juga, dokter melakukan USG untuk memastikan ‘jeroan’ atau hati atau empedu , gerangan apakah yang menyebabkan sakit tersebut. Weleh – weleh,..ditemukannya beberapa batu di empedu yang cukup besar berukuran 1,12 cm. Inilah yang menyebabkan fungsi empedu tidak berjalan normal yang pada akhirnya muncul gejala-gejala tersebut di atas. Selang 2 hari setelah di lakukan USG, maka dilakukan ‘BNO’ (ngga ngerti gua..) maksudnya harus dilakukan photo di bagian Radiologi guna melihat apakah batu empedu tersebut lunak atau keras. Kalo bersifat lunak berarti masih bisa di obati, tapi bila batu itu keras, maka mau tidak mau harus diangkat, harus di operasi.
     Setelah seminggu di rumah sakit, dokter menyarankan untuk pulang dulu dan menunggu hasil photo tersebut. Selama menunggu hasil tersebut (seminggu), Seorang teman dan saudara memberikan sebuah artikel tentang penyakit batu empedu dan cara penganggulangannya dengan Tanpa Operasi. Sebuah therapy buah Apel dari daratan cina yang dibuat oleh seorang dokter cina bernama Dr. Prof. Lui Chiu Nan (di artikel yang lain juga di tulis ‘dr. Lai Chiu-Nan). Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah, setelah 6 hari berturut - turut melakukan terapi tersebut, rasa sakit di ulu hati dan mual-mual kembung serta sakit di pinggang telah lenyap sama sekali.
     Berikut inti dari therapy buah apel tersebut: A. BAHAN : Buah apel merah segar, garam Inggris, Olive oil (minyak Zaitun ) dan buah lemon segar. B. ALAT : Fruit Processor listrik, gelas takaran, dan kawat nyamuk plastik yang sudah dirakit sesuai ukuran kloset. C. CARA : Biji apel dibuang kemudian di Juice dengan alat fruit processor listrik, ampas buang, juice 250 cc langsung diminum 1 jam sebelum makan pagi, makan siang, makan malam dan sebelum tidur ( jadi 4 X 250 cc sehari ) selama 5 hari berturut-turut. Hari ke 6 juice hanya minum pagi dan siang saja, selanjutnya puasa tetapi boleh minum air putih, sore pukul 18.00 minum 1 gelas air putih campur satu sendok makan garam Inggris dan pukul 20.00 minum lagi 1 gelas air putih campur 1 sendok makan Garam Inggris , pukul 22.00 minum 1/2 gelas Olive Oil (125cc) dan ½ gelas lemon juice (125 cc ) yang sudah diaduk merata. D. REAKSI : Setelah minum garam Inggris 2 kali akan buang air besar beberapa kali, keesokan harinya buang air besar harus disaring dengan kawat nyamuk, setelah siram air, bila ada butiran warna hijau, besar seperti cendol hijau atau seperti pasir itulah batu empedu yang keluar melalui kotoran, hal ini dapat keluar tiga kali dari pagi sampai sore.
      Cara pengobatan ini kemungkinan harus dilakukan beberapa kali tergantung kondisi masing-masing, bila ingin tahu apakah masih ada atau sudah habis batu empedu harus periksa ke Dokter.(USG) Catatan: Bila anda merasa repot dengan harus membuat jus, anda juga bisa langsung memakan apel tersebut tanpa harus di jus, namun buang dulu kulitnya. Dan bila anda malas untuk menyaring ‘BAB’ anda dengan kawat nyamuk plastic tersebut, just no problem, let it go to the WC, ngga usah di saring lah,..BAB aja seperti biasa. Yang terpenting, sakit anda sudah hilang dan untuk memastikan apakah batu di kandung empedu sudah hilang, secara medik anda bisa melakukan USG di rumah sakit (harganya sekitar Rp 168.000). Demikian semoga bermanfaat. Menjaga kesehatan adalah lebih baik dari pada pengobatan. Maka cegahlah penyakit – penyakit berat dengan cara menjaga makanan, dan setiap orang bisa mendapatkan hasil yang berbeda maka tetaplah dalam pengawasan keluarga anda

Sabtu, 14 Mei 2016

farmasi klinik dasar



Farmasi Klinik Istilah farmasi klinik mulai muncul pada tahun 1960-an di USA, dengan penekanan pada tugas dan fungsi farmasis yang bekerja langsung bersentuhan dengan pasien. Saat itu farmasi klinik merupakan suatu disiplin ilmu dan profesi yang relatif baru, di mana munculnya disiplin ini berawal dari ketidakpuasan atas norma praktek pelayanan kesehatan pada saat itu dan adanya kebutuhan yang meningkat terhadap tenaga kesehatan profesional yang memiliki pengetahuan komprehensif mengenai obat-obatan khususnya pengobatan. Gerakan itu muncul pada tahun 1960-an dimana farmasi klinik dimulai dari University of Michigan dan University of Kentucky
Sejak masa Hipocrates (460-370 SM) yang dikenal sebagai “Bapak Ilmu Kedokteran”, belum dikenal adanya profesi kesehatan lainnya karena saat itu mungkin seperti yang kita kenal sekarang yaitu tabib, semua kegiatan pengobatan dari mendiagnosa, mengobati hingga merawat hanya dilakukan oleh satu orang yaitu tabib sehingga belum dikenal apa itu Farmasi atau professional Farmasi. Jadi pada masa itu seorang dokter yang mendignosis penyakit, juga sekaligus merupakan seorang “Apoteker” yang menyiapkan obat sekaligus “Perawat”. Semakin lama masalah penyediaan obat semakin rumit, baik formula maupun pembuatannya, sehingga dibutuhkan adanya suatu keahlian tersendiri dan itu dimuali pada tahun 1240 M, dimana Raja Jerman Frederick II memerintahkan pemisahan secara resmi antara Farmasi dan Kedokteran dalam dekritnya yang terkenal “Two Silices”. Dari sejarah ini, satu hal yang perlu direnungkan adalah bahwa akar ilmu farmasi dan ilmu kedokteran adalah sama.
Dampak revolusi industri merambah dunia farmasi dengan timbulnya industri-industri obat, sehingga terpisahlah kegiatan farmasi di bidang industri obat dan di bidang “penyedia/peracik” obat ( apotek ). Dalam hal ini keahlian kefarmasian jauh lebih dibutuhkan di sebuah industri farmasi dari pada apotek. Dapat dikatakan bahwa farmasi identik dengan teknologi pembuatan obat dan saat itu terkenal dengan orientasi produk.
Dalam bukunya Herfindal dalam bukunya “Clinical Pharmacy and Therapeutics” (1992) menyatakan bahwa Pharmacist harus memberikan “Therapeutic Judgement” dari pada hanya sebagai sumber informasi obat.

Jadi sebenarnya Farmasi klinik merupakan ilmu kefarmasian yang relatif baru berkembang di Indonesia. Walaupun istilah farmasi klinik sudah mulai muncul pada tahun 1960-an di Amerika, yaitu suatu disiplin ilmu farmasi yang menekankan fungsi farmasis untuk memberikan asuhan kefarmasian (Pharmaceutical care) kepada pasien. Bertujuan untuk meningkatkan outcome pengobatan. Secara filosofis, tujuan farmasi klinik adalah untuk memaksimalkan efek terapi, meminimalkan resiko, meminimalkan biaya pengobatan, serta menghormati pilihan pasien. Saat ini disiplin ilmu tersebut semakin dibutuhkan dengan adanya paradigma baru tentang layanan kefarmasian yang berorientasi pada pasien. Tenaga farmasi yang bekerja di rumah sakit dan komunitas (apotek, puskesmas, klinik, balai pengobatan dan dimanapun terjadi peresepan ataupun penggunaan obat), harus memiliki kompetensi yang dapat mendukung pelayanan farmasi klinik yang berkualitas.
Ada juga yang mengartikan farmasi klinik sebagai suatu keahlian khas ilmu kesehatan yang bertanggung jawab  untuk memastikan penggunaan obat yang aman dan sesuai dengan kebutuhan pasien, melalui penerapan pengetahuan dan berbagai fungsi terspesialisasi dalam perawatan pasien yang memerlukan pendidikan khusus dan atau pelatihan yang terstruktur. Sehingga dapat dirumuskan tujuan farmasi klinik yaitu memaksimalkan efek terapeutik obat, meminimalkan resiko/toksisitas obat, meminimalkan biaya obat.
Kesimpulannya, farmasi klinik merupakan suatu disiplin ilmu kesehatan di mana farmasis memberikan asuhan (“care”; bukan hanya jasa pelayanan klinis) kepada pasien dengan tujuan untuk mengoptimalkan terapi obat dan mempromosikan kesehatan, wellness dan prevensi penyakit.



Farmasi klinik yang dimaksudkan dalam Permenkes nomor 58 tahun 2014 adalah sebagai berikut :
1. pengkajian dan pelayanan resep
pelayanan resep dimulai dari penerimaan resep dimana dalam penerimaan dilihat kejelasan tulisan dalam resep ( dapat terbaca atau tidak ) baru kemudian di schrening, diantaranya adalah administrasi, yaitu kelengkapan yang harus tercantum dalam resep seperti tercantum
a. profil pasien : nama pasien, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, ruangan/poli
b. profil penulis resep : nama dokter, nomor ijin, alamat dokter,tgl ditulis dan paraf penulis
c. dan terapi : nama obat, bentuk sediaan, dosis, jumlah, stabilitas, cara pakai, waktu digunakan, ED atau BUD dan cara menyimpan
2. penelusuran riwayat obat
penelusuran riwayat penggunaan obat paling tidak harus tercantum dalam rekam medik, bila di apotik paling tidak ada catatan resep dari pasien atau pasien berkunjung, dalam penelusuran resep ini dilakukan kegiatan berupa :
a. membandingkan riwayat obat dengan proses pengobatan yang akan dialami pasien ( obat yang sudah dikonsumsi diwaktu lalu dibandingkan apakah sudah selaras dengan indikasi atau sakitnya sekarang ) sehingga apakah ada keterkaitan terapi sekarang dengan yang sebelumnya
b. verifikasi riwayat penggunaan obat ( memastikan terapi yang dahulu sudah tepat, sesuai dosis, benar cara pakai dan sebagainya )
c. mendokumentasikan bila ada alergy atau pernah mengalami kejadian efek samping obat yang tidak diinginkan sehingga dapat diantisipasi
d. identifikasi adanya interaksi obat dengan obat atau obat dengan makanan
e. melakukan penilaian kepatuhan dalam menggunakan obat
f. melakukan penilaian rasionalitas pengobatan
g. melakukan penilaian pemahaman pasien terhadap obat
h. melakukan penilaian salah atau benar dalam pasien menggunakan obat
i. melakukan penilaian apakah pasien menyalah gunakan obat
j. melakukan penilaian apakah pasien butuh alat bantu dalam mengkonsumsi obat ( misal butuh orang mengingatkan, butuh bentuk sediaan yang berbeda seperti bentuk tablet menjadi syrup atau sebaliknya, butuh pen insulin, dsb )
k. mendokumentasikan obat ( obat tradisional/ramuan/herbal/dsb ) yang dikonsumsi tanpa rekomendasi dokter yang merawat
l. mengidentifikasi terapi lain misal akupuntur, pijat refleksi, tusuk jarum, dsb

3. rekonsiliasi
rekonsiliasi adalah membandingkan terapi yang sedang dijalani dengan terapi yang dapat saat itu untuk terapi selanjutnya, dimana ada maksud untuk mencegah terjadinya berbagai hal yang tidak diinginkan seperti
a. polifarmasi
b. kesalahan obat
c. kesalahan dosis
d. kesalahan jenis sediaan dan sebagainya
rekonsiliasi ini dimaksudkan supaya :
a. memastikan terapi yang akurat
b. mengidentifikasi keseuaian akibat tidak terdikumentasikan terapi
c. mengidentifikasi akibat tidak jelas tulisan atau terapi

( berlanjut )

selayang pandang alat - alat di kamar bedah

Selayang pandang tentang alat-alat dasar kamar operasi yang sering digunakan oleh teman-teman sejawat apoteker pada saat melakukan operasi ....